Mengunjungi Rehabilitasi Orangutan BOSF ( Borneo Orang utan Survival Foundation)

Bujang berumur 30 tahun
Pengalaman berwisata orang utan biasanya dinikmati di kebun binatang, tapi tempat yang punya fasilitas wisata untuk melihat langsung dan belajar dan berinteraksi dengan orang utan endemik Borneo secara langsung di habitatnya.
Lokasi Borneo Orangutan Survival atau (BOS) di KM 44, berada di kawasan hutan konservasi Samboja Lestari, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Jalan berbatu diantara tanah liat serta menanjak akan menjadi suguhan wisatawan ketika mulai memasuki kawasan hutan konservasi tersebut.
Selamat datang di BOS
Sebelum mulai berwisata, semua pengunjung akan di bawa ke penginapan terlebih dahulu di Samboja Lodge. Mereka  juga akan melakukan medical check up kurun waktu lima hari sebelum ke wisata tersebut. Saat masuk pun mereka harus menggunakan masker.
Daei kawasan tersebut, guide akan memandu wisatawan masuk hutan Samboja Lestari menggunakan mobil 4×4 hingga sampai di pemberhentian. Lalu wisatawan akan di pandu memasuki kawasan sekolah konservasi orangutan dengan berjalan kaki.
Melihat orangutan sekolah akan menjadi pengalaman yang sangat menarik disini. Mungkin hanya ada di Kalimantan satu – satunya orangutan yang diajaekan kurikulum hidup di alam liar.
Di kawasan konservasi yang dikelola oleh yayasan BOS telah Merehabilitasi kurang lebih sekitar 600 Orang utan. Semua yang di rehabilitasi untuk mengembalikan forest skill nya atau naluri dan dikembalikan ke alam liar. Sekolah orang utan memliki pelatih manusia dan metode pelatihan yang digunakan berbagai macam.
Mendengar cerita dan arahan dari guide 
Ada 3 tahapan dalam pembelajaranya. Orang utan yang dibawah 3 tahun di didik seperti paud, setelah di atas 3 sampai 5 tahun di tingkat 1. Di atas 5 tahun mereka masuk ke tingkat 2. Mayoritas lama sekolah disini tujuh hingga sepuluh tahun sebelum di lepaskan dan tergantung tingkat kecerdasan nya.
Di dalam sekolah mereka belajar hal seperti memanjat, membuat sarang, menghafal pohon, hingga bisa mengenali ratusan jenjs makanan mereka. Orang utan yang ditaruh disini didapatkan dari hasil sitaan atau perdagangan ilegal.
Penyebab orang utan untuk masuk ke rehabilitasi selain dilindungi oleh undang – undang dan status mereka sudah memasuki spesies yang kritis karena sudah sangat ketergantungan dengan manusia atau dari perdangan ilegal yang bisa di amankan oleh para petugas. Dari 165 orang utan ada 44 orang yang tidak bisa kembali ke alam liar karena sudah mengalami cacat seperti TBC dan exTBC.
Ada 2 orang utan  yang sudah di rehabilitasi selama 15 tahun yang mengalami keterbelakangan atau cacat mental. Ada pun juga mempunyai cacat fisik sejumlah 2 orang utan. Salah satunya tidak mempunyai 2 tangan orang utan siksa oleh pemiliknya dan tersiksa karena pagar setrum, karena mencoba untuk kabur dari pemiliknya. Satu lagi tidak bisa melihat di temukan di perkebunan kelapa sawit.
Terdapat tujuh pulau tempat rehabilitasi orangutan di daerah ini. Dua diantatanya dibuka untuk wisatawan umun, yaitu pulau enam dan pulau lima. Sedangkan untuk lima pulau lainya hanya untuk pengelola, peneliti, dan para relawan konservasi. Di sebut pulau karena setiap kawasannya dibatasi dengan sungai kecil, dan menjadi pembatas area untuk wisatawan.
Pulau enam atau pulau orangutan
Sehingga para wisatawan hanya bisa melihat orangutan dari seberang sungai.
Di pulau enam ada 2 orangutan bernama Bujang dan Ani yang harus di rehabilitasi sepanjang hidupnya. Pulau ini disebut zona edukasi oleh para guide, karena mengajarkan wisatawan mengenai karakteristik orangutan sebelum direhabilitasi.
Bujang adalah pejantan yang dahulu merupakan orangutan sirkus yang telah berumur 30 tahun. Bujang sendiri telah memiliki sifat seperti manusia pada umumnya. Dan yang membuat sedih, ia tak tertarik orangutan perempuan, tapi lebih tertario melihat manusia perempuan yang mempunyai rambut panjang dan berwarna pirang.
Bujang yang menghindar ketika laki-laki mendekat
Bujang akan loncat kegirangan dan berusaha menarik perhatian ketika melihat wosatawan dengan ciri tersebut. Bahkan ada hal yang dilakukan nya untuk mencapai kepuasan seperti manusia yaitu masturbasi. Sedih melihat dengan kondisi dia seperti itu.
Sedangkan Ani sendiri orangutan yang memiliki keterbelakangan mental, karena Ani adalah hasil peliharaan masyarakat yang termasuk tindakan ilegal.
Ani yang mengalami cacat mental
Di pulau lima berada tepat di sebelahnya, di dalam pulau lima terdapat 4 pasang ibu dan anak orangutan, salah satunya Ical umur 5 tahun, anak dari Imut 10 tahun. Area ini merupakan salah satu pendidikan terbaik yang dilakukan di kawasan konservasi tersebut. Karena orangutan yang ada di sini belajar untuk menjadi liar dari orang tuanya masing – masing.
Setelah puas bermain dan melihat mereka belajar, wisatawan dapat diantar kembali menuju penginapan dan kembali beristirahat. Di penginapan, yayasan BOS juga menyediakan berbagai suvenir bertemakan orangutan Borneo seperti boneka, pin, hingga kaos.
Kalian tidak akan menyesal dan akan mendapat pengalaman luar biasa jika mengujungi tempat rehabilitasi orangutan atau (BOS) .
Bagaimana, kalian tertarik untuk berwisata ke kalimantan timur ?

Related Posts

4 Responses

Leave a Reply