Mengenal lebih dekat Desa Budaya Sumba


Selain banyaknya wisata alam yang begitu indah, pulau sumba juga mempunyai berbagai keindahan lainya. seperti tradisi budaya, kain tenun, cerita masyarakat dan rumah adat. Kali ini saya akan membahas tentang beberapa desa dengan rumah adat yang ada di pulau Sumba.


Kampung adat Ratenggaro

Desa adat Ratenggaro


Kampung adat Ratenggaro merupakan salah satu kampung adat yang cukup terkenal keindahannya. Di sajikan dengan lanskap hamparan pasir putih di depan kampong yang akan memanjakan mata siapa saja yang sedang berkunjung kesana.

Secara Geografis, kampung adat Ratenggaro terletak di pinggir pantai dan muara sungai Waiha. Dan juga bersebelahan dengan kampong adat Wainyapu yang juga berada di muara sungai. Lokasinya terletak kurang lebih sekitar 57Km dari kota Tambolaka.

Desa adat Ratenggaro


Salah satu keunikan dari kampung adat Ratenggaro adalah pada bentuk rumahnya atau disebut ( uma Kelada ). Yaitu dengan menara yang menjulang tinggi ke atas sekitar 15 meter. Kondisi atap rumah di Ratenggaro ini berbeda dengan rumah – rumah adat lainya yang mempunyai tinggi sekitar 7 sampai 8 meter.

Sedangkan Ratenggaro juga memiliki arti yaitu Kubur Garo, sebab di Kampung adat Ratenggaro mempunyai sekitar 304 makam atau batu kubur. Di antaranya ada 3 buah batu kubur unik yang terletak di pinggir laut dan merupakan kuburan bersejarah.

Desa adat Ratenggaro


Kampung adat Ratenggaro menjadi salah satu destinasi bagi para wisatawan lokal maupun asing. Selain itu Kampung adat Ratenggaro yang paling sering dikunjungi oleh para wisatawan. Tak jarang ada juga kapal yang sandar untuk menyambanginya karena penasaran.



Kampung adat Tarung


Kampung adat Tarung sendiri terletak di wilayah kota Waikabubak, Sumba Barat. Kampung tarung mempunyai daya tarik tersendiri. Selain menjadi salah satu kampung adat tertua di wilayah Sumba Barat, masyarakat yang tinggal di lahan sepanjang kurang lebih 1 kilometer ini masih setia menjaga adat istiadat para leluhur. Sedangkan arti dari kata “Tarung” sendiri bukan melambangkan sebuah perkelahian ataupun pertengkaran. Melainkan arti dari Tarung merupakan sebuah panggilan untuk pasangan dari para leluhur. Dimana para leluhur akan melindungi Tarung dan melindungi siapapun yang lemah.

Kampung Tarung


Di kampung adat Tarung sendiri terdapat sekitar 100 rumah adat yang dihuni oleh sekitar 400 warga. Setiap rumah di isi oleh tiga generasi. Rumah menara atau rumah adat sendiri ialah rumah adat khas Sumba Barat yang memiliki filosofi dan fungsi bagi masyarakat Kampung adat Tarung. Namun sempat terjadi musibah kebakaran yang melahap hampir sekitar 30 rumah di kampung adat Tarung.

Rumah adat di Sumba sering dikenal juga dengan sebutan “uma”. Dimana arsitekturnya berbentuk menyerupai kotak diatas panggung yang mempunyai penyangga 4 buah kayu yang gihunakan sebagai kerangka utama bangunan tersebut.

Kampung Tarung


Kampung Tarung


Sebagai tiang atap biasanya dilengkapi dengan 36 batang kayu yang disambung menggunakan pasak yang terbuat dari kayu. Untuk rumah adat biasanya di bagi menjadi bebera bagian seperti :

·         Bagian atap ( Toko Uma) berbentuk kerucut atau seperti Joglo ( rumah adat Jawa), Namun yang menjadi pembeda adalah dari bahan yang digunakan sebagai atap. Dimana untuk rumah di Kampung adat Tarung menggunakan rumput alang – alang. Pada bagian ini digunakan sebagai tempat menyimpan benda pusaka dan sekaligus sebagai lumbung dari hasil panen.
·         Bagian tengah hunian ( Bei Uma), pada ruangan ini di bedakan menjadi beberapa fungsi seperti ruangan untuk khusus pria dan wanita, ruang keluarga, dan juga ruangan yang digunakan sebagai tempat berkumpul atau disebut Bangga.
·         Bagian bawah panggung ( Kali Kabunga), biasanya digunan sebagai untuk kandang dari hewan ternak mereka.



Kampung adat Praijing


Selain kampung adat Ratenggaro dan kampung Tarung, Kampung adat Praijing juga sangat popular bagi para wisatawan. Kampung adat Praijing adalah destinasi yang dikembangkan oleh pemerintah setempat yang diharapkan mampu meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke daerah tersebut.

Sebab kampung adat Praijing juga menawarkan pesona keindahan lanskap persawahan yang terletak di belakang kampung. Sama halnya di kampung adat lainya, di kampung adat Praijing juga terdapat makam atau batu kubur megalitik yang tersebar di tengah – tengah halaman rumah.

Desa Praijing


Rumah – rumah di kampung adat Praijing pun juga dibagi menjadi tiga bagian. Anatara lain Lei Bangun ( kolong rumah ) sebagai tempat memelihara hewan ternak, Rongu Uma ( tingkat dua ) sebagai tempat tinggal, dan Uma Daluku ( menara atau loteng ) digunakan sebagai untuk menyimpan bahan makanan dan benda pusaka.


Kemudian pada atap rumah dilengkapi dengan semacam tiang berukir yang biasa digunakan sebagai pintu pembeda antara laki – laki dan perempuan. Biasanya pintu lelaki digunakan oleh kepala rumah tangga atau ayah untuk masuk ke dalam rumah. Sedangkan pintu perempuan biasanya digunakan untuk ibu yang akan pergi ke pasar.

Desa Praijing


Pada rumah bermenara juga terdapat 4 tiang yang menjadi penyangga menara. Pada tiap menara ada yang bermakna “tiang perempuan” karena letaknya dekat dengan dapur yang menjadi pusat aktivitas Inna atau ibu. Sementara tiang lainya disebut dengan “tiang laki-laki” karena tempatnya berdekatan dengan ruang tamu tempat laki – laki untuk berdiskusi atau musyawarah.

Desa Praijing


Kemudian pada setiap tiang terdapat detail bundar. Para penduduk meyakini di sinilah tempat bersemayamnya Marapu, agama keyakinan suku di Sumba. Marapu merupakan agama asli yang masih dianut oleh orang Sumba. Konon diartikan “yang dipertuan” atau “yang di muliakan”. Agama ini merupakan keyakinan yang didasari pada pemujaan terhadap arwah para leluhur.

Semoga tulisan tentang rumah adat atau desa budaya di pulau Sumba bisa bermanfaat buat kalian yang ingin berkunjung ke Sumba dan tak hanya mencari keindahan alam semata.