ILABULO : Kuliner Mirip Pepes Khas Gorontalo

Malam kedua di Gorontalo mendapat kesempatan melihat senja di tepi pantai, kemudian menjelajah di beberapa sudut kota. Namun saat menjelang malam, tiba – tiba aku di giring untuk menikmati salah satu tempat kuliner di kota Gorontalo. 

Ditemani oleh beberapa teman dari Gorontalo seperti bang Steve, bang Imen, dan Novi . Beberapa kali berbelok ke kanan dan ke kiri, menyusuri setiap jengkal kedalaman sudut kota. Kami pun sampai, melihat daerahnya tidak terlalu mencolok. 
Lokasinya di Jl. Panegoro, kota Gorontalo pun tampak biasa saja, sekilas seperti rumah warga pada umumnya. Namun, yang membedakan adalah, banyak kendaraan yang parkir untuk rela mengantri kuliner khas Gorontalo satu ini.

Sebelum membahas Ilabulo, mari sedikit bercerita sejarahnya.

Konon sejak zaman 15 sebelum masehi, Ilabulo sudah dikenal sebagai makanan di kalangan para raja di Gorontalo. Bahkan Ilabulo sendiri dijadikan sebagai simbol filosofi pemersatu para raja pada waktu itu. Apalagi ketika perang merebutkan wilayah dan kekuasaan yang sedang terjadi di antara kerajaan Hulondhalangi dan kerajaan Limutu.

Konon ketika para raja yang bertikai akan berdamai, maka Ilabulo akan selalu disuguhkan menjadi santapan utama. Ilabulo sendiri dalam bahasa Gorontalo memiliki makna “Totombawata” yang artinya bersatu padu.
Dan para raja itu melambangkan Ilabulo dengan Totombowata karena Ilabulo memiliki berbagai macam perbedaan yang dilambangkan pada sagu, lemak daging ayam, dan aneka rempah – rempah yang di gabung menjadi satu. Maka kenikmatan yang disuguhkan Ilabulo menjadi sebuah perdamaian bagi para raja.

Namun sayangnya hingga sekarang belum di ketahui pasti kapan pertama kali Ilabulo muncul di masyarakat Gorontalo.

Ilabulo mempunyai bahan dasar sagu, daging ayam, hati ayam, telur, bawang merah, bawang putih, merica, jeruk nipis, cabe rawit hijau di campur menjadi satu. Dalam penyajiannya pun rempah – rempah di campur dengan hati ayam, dan sagu lalu ditambahkan telur. Kemudian adonan di bungkus dengan daun pisang, lalu di bakar.
Saat di bakar di atas bara, maka aroma khas akan semerbak menggoda siapapun yang mencium aromanya.

Penantian yang lumayan panjang akhirnya terbayarkan. Ilabulo yang kami pesan akhirnya datang. Daun pembungkus berwarna hijau pekat telah dibuka. Kepulan asap mengaantarkan aroma khas daging ayam, sagu, dan rempah – rempah membuat ingin segera menyantapnya.

Rasa kenyal yang tertangkap pertama serta pedas menjadi pembuka. Kemudian daging dan telur ayam serta bumbu rempah – rempah menjadi penyempurna rasa Ilabulo. Konon ada juga Ilabulo yang dikukus, namun bagiku tetap juara rasa Ilabulo yang di bakar. Apalagi lebih nikmat disantap dengan nasi dan sambal, rasanya semakin juara.

Dari segi harga juga masih bersahabat, yaitu setiap 1 Ilabulo dibandrol dengan harga Rp5.000 saja. Terjangkau sekali bukan, dengan citarasa yang khas Gorontalo kita bisa menikmatinya.

Sayang sekali jika kalian sudah berkunjung ke Gorontalo namun tidak menyempatkan waktu mencicipi kuliner khas satu ini. 

Related Posts

10 Responses

Leave a Reply