Set Primary menu by going to Appearance > Menus

Estafet wisata BIMA

Melanjutkan hijrah dari pulau menuju pulau lain demi mencari sesuatu yang berbeda dalam melakukan perjalanan mencoba mengelilingi Indonesia

Pagi datang begitu cepat,dan saya bangun lebih awal dengan suara suara aneh yang mengejutkan.Tak terasa janji yang dibuat dengan teman teman Bima sudah tiba untuk mengunjungi beberapa daerah yang belum pernah saya datangi sebelumnya.Tak ingin membuang waktu dengan percuma maka kami mulai bersiap siap.Setelah semua dirasa sudah cukup perbekalan,kami segera menuju mobil yang kami gunakan untuk menuju tempat tempat tersebut.ada bang Gizan,bang Ganja,Noufal,Witjcak,Haw haw,Arinta,Galuh dan saya.Waktu tepat menunjukan pukul 10 pagi,dan Kami berjumlah 8 orang menuju bagian barat Bima.Mobil terpacu pelan tapi pasti mengarak kami melintasi kota Bima beserta aktivitas pagi hari yang ramai saat itu.Perjalanan kami akhirnya sampai di tempat pertama yaitu Pacuan kuda.kenapa pacuan kuda? karena kami ingat hari minggu biasa di gelar ajang latihan kuda kuda pacu yang sering mengikuti perlombaan dan kami ingin melihat bagaimana kuda kuda pacu itu ditunggangi oleh joki cilik yang sangat tersohor di Indonesia.Saat kami memarkir kendaraan,terihat bebebarap kuda pacu telah keluar dari arena dan mulai digiring menuju mobil yang biasa dipakai untuk mengangkut.Rasa harap harap cemas mulai menghantui kami.Apakah sesi latihan sudah usai atau belum.Tapi kami ingin mencoba dan berharap teman teman bisa menyaksikan langsung walau hanya sebentar.Sesampainya di dalam ternyata keberuntungan masih ada untuk kami,ada 1 ronde lagi 2 ekor pacu kuda yang akan tampil.saya sangat bahagia karena teman teman bisa berkesempatan melihat langsung kuda kuda Bima beraksi di arena.Kami berdiri di pembatas arena sambil sesekali mengeluarkan kepala melihat keujung apakah kuda sudah mulai berlari atau belum.Tak beberapa lama suara teriakan orang mulai terdengar menyoraki seluruh arena.saya segera menengok dan menunggu kuda melintas berlari dihadapan kami.2 ekor kuda saling berlari dan mendahului beradu ingin menjadi yang terdepan saat berada di lintasan.mereka melakukan 2 kali putaran yang sangat sengit.saya dan teman teman sangat berdecak kagum melihat kehebatan joki cilik yang begitu handal mengendalikan kuda kuda yang ukurannya besar ketimbang tubuh mereka.sesi latihan selesai saat kuda telah mencapai garis finish dan berjalan mengurangi kecepatan mereka sedikit demi sedikit,kami kembali menuju ke parkiran dan berjalan menuju ke tempat selanjutnya yang tidak jauh dari lokasi pacuan kuda.


Tak perlu waktu yang lama,sekitar 10 menit kami sudah berada di kawasan ladang garam milik warga Bima.saya keluar mengikuti bang Gizan dan bang Ganja menuju salah satu bukit yang ada tidak jauh dari jalan.sekitar 10 menit kami telah sampai di atas bukit.dengan cuaca cerah dan panas mulai menyerang kami hingga sangat menusuk tepat dikepala.ditengah cuaca yang terik kami menikmati lanskap ladang garam milik warga.petak petak yang tersusun sangatlah unik,dihiasi berbagai warna alami disetiap petaknya dan ditambah cahaya silau pantulan matahari di setiap gubuk membuat lengkap dan puas kami menikmatinya.tak ingin berlama lama di bawah sorotan matahari,kami segera turun menuju mobil kembali dan akan melakukan perjalanan menuju Donggo kabupaten Bima.

Perjalanan menuju Donggo kurang lebih sekitar 1 jam dari ladang garam.jalan yang memutar melewati pinggiran teluk Bima meyajikan pemandangan kota dari seberang teluk.Sampai di ujung persimpangan kami bergeser menuju perbukitan.jalan yang mulai mengecil melewati perkampungan warga.Jalan berkelak kelok,dikanan dikiri tersajikan lanskap ladang perkebunan masyarakat.Warna hijau sejauh mata memandang menghiasi perjalanan siang cerah kala itu.semakin lama suhu mulai berubah,dari cuaca yang panas dengan cepat berubah berkabut dan dingin mulai menusuk di permukaan kulit.kami terus mencari tempat selanjutnya yaitu Sawah Spiderman yang tersembunyi di balik bukit.Tempat ini masih sangat jarang di ketahui dan kunjungi karena minimnya info dan cerita asal muasal bagaimana sawah bisa berbentuk menyerupai sarang laba laba tersebut.Pelan pelan kami berjalan dan terus melihat sisi kanan dan kiri,kami tidak ingin melewatkan tempat tersebut dan pulang dengan tangan kosong.Dibalik pohon yang bersusun di sepanjang jalan,kami mencermati dengan seksama setiap jengkal tempat di bawah bukit.Kecemasan kami akhirnya terbayarkan ketika bang Gizan menemukan lokasi sawah Spiderman,kami segera turun dan berjalan melewati ladang jagung milik masyarakat.

Sesampainya di ladang jagung,tiba tiba langit berubah seketika gelap.Tanpa kompromi lagi hujan turun begitu lebat dan kami semua berteduh di sebuah gubuk kecil sembari menunggu hujan reda.hampir 1 jam kami beristirahat digubuk dan hujan berhenti di ikuti langit yang mulai membuka sinar matahari kembali.kammi beranjak mencari batu untuk bisa melihat sawah spiderman dengan jelas.Penantian hujan memang tak sia sia,semua terbayarkan melihat keindahan bentuk sawah yang unik itu.Setelah beberapa saat kami menikmati sekaligus mengambil foto kami bergegas menuju tempat terakhir tujuan kami yaitu “UMA LEME” yang berada di desa atas.Jarak dari sawah menuju rumah adat kurang lebih 30 menit.Jalan yang kami lewati masih sama yang berkelak kelok menaiki bukit,tikungan tajam,turunan terjal hingga tanjakan yang panjang membelah bukit.akhirnya kami sampai juga,mobil merapat ke tepi jalan tepat dibawah plang lokasi wisata rumah adat “UMA LEME”.satu persatu kami turun melewati jalan yang sedikit menanjak dan melewati sebuah pohon besar yang berada tepat di belakang “UMA LEME” yang berdiri tunggal diantara rumah rumah warga yang sudah banyak berubah bentuknya.Kaki terus bergerak berjalan mendekati rumah adat,gerimis kecil menemani dalam kunjungan saat itu.Mata dengan liar melihat setiap sudut yang ada bagian bawah rumah.Ada beberapa kayu yang sudah diganti karena kondisinya sudah lapuk dan harus segera di perbarui.sebab,“UMA LEME” sendiri sudah ada sejak jaman kerajaan dulu kala yang sampai saat ini masih meninnggalkan bukti bagaimana per adabanya.Bangunan ini juga memiliki unsur seperti elemen yang ada di bumi : air,api,udara,pengobatan (sumber ini saya dapat dari perbincangan dengan salah seorang teman).Dibagian depan terdapat 1 pintu masuk dan keluar saja.Lalu kondisi bagian dalam juga sangat memprihatinkan karena kurangnya perhatian jadi ada beberapa bagian yang mulai kropos dimakan usia.Selanjutnya di bagian depan diatas tanda silang bambu masih sama dengan rumah adat yang ada di wawo yaitu “UMA LENGGE” tetapi ada sedikit perbedaan dari kedua rumah adat tersebut.Perbedaannya terletak di bagian samping,jika “UMA LEME” mempunyai barugak kecil,lantas di “UMA LENGGE” sendiri tidak memiliki alias hanya rumah saja.

Lalu,untuk proses pembuatan sebuah rumah atau bangunan sendiri ada beberapa proses seperti syukuran,pemilihan pondasi yang memiliki elemen dari bumi serta setiap prosesi awal pembuatan harus diawali oleh PANGGITA lalu di ikuti oleh seluruh orang yang bekerja.Miris melihat kondisi rumah adat yang seperti tidak terawat tetapi disini memang begitu keadaanya.belum lagi disekitar lokasi masih ada cerita kain tenun hitam yang dibuat oleh warga sekitar yang mempunyai daya magic yang tak bisa saya dapatkan baik gambar atau cerita lengkapnya.saya hanya duduk terdiam sembari melihat sekitar dan membayangkan jika peninggalan ini hilang atau musna bagaimana menceritakan ke anak cucu kelak ? ya semoga kedepan nya semua mulai menjaga dan tetap menjaga semua yang termasuk bagian dari sejarah yang dimiliki Indonesia.
Kami sudah merasa cukup puas dan hari sudah semakin dingin dan gelap.maka kami berpamitan untuk kembali ke kota Bima.Kali ini perjalanan mengunjungi wisata dalam 1 hari dengan cara estafet tidaklah sia sia.banyak yang kami dapatkan baik cerita di setiap tempatnya dan cerita perjalanan seru menyimpan kenangan tersendiri untuk kota Bima.

No Comments

Leave a Reply