Set Primary menu by going to Appearance > Menus

7 hal KENAPA HARUS “BIMA”

Sebuah perjalanan ingin mencoba mengelili Indonesia berharap diwujudkan.Petualangan ini seakan ingin terus hijrah dari satu tempat ke tempat selanjutnya.namun,kali ini saya ingin menceritakan beberapa hal yang saya dapat ketika saat melakukan perjalanan.

Ada yang tau Bima? Belum tau? Diprovinsi mana? Atau di dekat manasih Bima itu?

pasti sebagain dari teman teman atau yang lainya sudah ada yang tau bahkan lebih paham ketibang saya.namun disini saya akan menceritakan beberapa versi yang saya dapat langsung dari sumber yang memang mengetahuinya dengan baik.
Terkadang beberapa pertanyaan muncul kepada saya kenapa harus Bima.ada alasan tersendiri saya ingin mencari tahu dan ingin membaginya kepada semua orang apa yang saya dapat di kota Bima.karena saat saya berada di Kota Bima saya mengakui salah satu kota yang membuat saya betah dan nyaman serta ingin berlama lama di kota yang tenang ini.Baiklah saya akan memulai berbagi 7 hal mengenai kota Bima yang bisa membuat kalian penasaran.tentunya akan lebih dekat sekaligus ingin segera bergegas menuju Bima.

“Bima : Dana Mbojo”

KABUPATEN BIMA : Bima berdiri pada tanggal 5 Juli 1640 M, ketika Sultan Abdul Kahir dinobatkan sebagai Sultan Bima I yang menjalankan Pemerintahan berdasarkan Syariat Islam. Peristiwa ini kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Bima yang diperingati setiap tahun. Bukti-bukti sejarah kepurbakalaan yang ditemukan di Kabupaten Bima seperti Wadu Pa’a, Wadu Nocu,Wadu Tunti (batu bertulis) di dusun Padende Kecamatan Donggo menunjukkan bahwa daerah ini sudah lama dihuni manusia.Dalam sejarah kebudayaan penduduk Indonesia terbagi atas bangsa Melayu Purba dan bangsa Melayu baru.Demikian pula halnya dengan penduduk yang mendiami Daerah Kabupaten Bima,mereka yang menyebut dirinya Dou Mbojo, Dou Donggo yang mendiami kawasan pesisir pantai.

KERAJAAN BIMA :
Kerajaan Bima dahulu terpecah–pecah dalam kelompok-kelompok kecil yang masing-masing dipimpin oleh Ncuhi. Ada lima Ncuhi yang menguasai lima wilayah, yaitu:

Ncuhi Dara, memegang kekuasaan wilayah Bima Tengah
Ncuhi Parewa,memegang kekuasaan wilayah Bima Selatan
Ncuhi Padolo,memegang kekuasaan wilayah Bima Barat
Ncuhi Banggapupa,memegang kekuasaan wilayah Bima Utara
Ncuhi Dorowani memegang kekuasaan wilayah Bima Timur

Kelima Ncuhi ini hidup berdampingan secara damai,saling hormat menghormati dan selalu mengadakan musyawarah mufakat bila ada sesuatu yang menyangkut kepentingan bersama.Dari kelima Ncuhi tersebut yang bertindak selaku pemimpin dari Ncuhi lainnya adalah Ncuhi Dara.Pada masa-masa berikutnya, para Ncuhi ini dipersatukan oleh seorang utusan yang berasal dari Jawa. Menurut legenda yang dipercaya secara turun temurun oleh masyarakat Bima, cikal bakal Kerajaan Bima adalah Maharaja Pandu Dewata yang mempunyai 5 orang putra, yaitu:

Darmawangsa
Sang Bima
Sang Arjuna
Sang Kula
Sang Dewa

Salah seorang dari lima bersaudara ini yakni Sang Bima berlayar ke arah timur dan mendarat di sebuah pulau kecil di sebelah utara Kecamatan Sanggar yang bernama Satonda.Sang Bima inilah yang mempersatukan kelima Ncuhi dalam satu kerajaan,yakni Kerajaan Bima dan Sang Bima sebagai raja pertama bergelar Sangaji.Sejak saat itulah Bima menjadi sebuah kerajaan yang berdasarkan Hadat dan saat itu pulalah Hadat Kerajaan Bima ditetapkan berlaku bagi seluruh rakyat tanpa kecuali.Hadat ini berlaku terus menerus dan mengalami perubahan pada masa pemerintahan raja Ma Wa’a Bilmana.Setelah menanamkan sendi-sendi dasar pemerintahan berdasarkan Hadat,Sang Bima meninggalkan Kerajaan Bima menuju timur,tahta kerajaan selanjutnya diserahkan kepada Ncuhi Dara hingga putra Sang Bima yang bernama Indra Zamrud sebagai pewaris tahta datang kembali ke Bima pada abad XIV/XV.

HUBUNGAN DARAH ANTARA BIMA,BUGIS,DAN MAKASSAR
Hubungan kekerabatan dan kekeluargaan yang terjalin selama kurun waktu 1625–1819 (194 tahun) pun terputus hingga hari ini. Hubungan kekeluargaan antara dua kesultanan besar di kawasan Timur Indonesia, yaitu Kesultanan Gowa dan Kesultanan Bima terjalin sampai pada turunan yang ke VII. Hubungan ini merupakan perkawinan silang antara Putra Mahkota Kesultanan Bima dan Putri Mahkota Kesultanan Gowa terjalin sampai turunan ke VI, sedangkan yang ke VII adalah pernikahan Putri Mahkota Kesultanan Bima dan Putra Mahkota Kesultanan Gowa.

Ada beberapa catatan yang ditemukan, bahwa pernikahan Salah satu Keturunan Sultan Ibrahim (Sultan Bima ke XI) masih terjadi dengan keturunan Sultan Gowa, sebab pada tahun 1900 (pada kepemimpinan Sultan Ibrahim), terjadi acara melamar oleh Kesultanan Bima ke Kesultanan Gowa. Mahar pada lamaran tersebut adalah Tanah Manggarai yang dikuasai oleh kesultanan Bima sejak abad 17.

Baiklah,setelah membahas sedikit sejarah tentang Kota Bima.saya akan mulai memberi alasan Inilah 7 hal kenapa harus ke “BIMA”

Ke-1 adalah : “Cau Muna”
Cau Muna adalah alat tenun asli dari Bima terbuat dari bambu bilok yang tidak memiliki ruas dan dibentuk melewati beberapa proses cukup panjang serta memakan waktu berhari-hari sebelum menjadi layaknya sisir yang rata seperti miniatur.alat ini berguna untuk mengatur jarak dan menganyam benang dalam proses penenuhan sebuah kain tenun.pembuatan Cau Muna sendiri sekarang tersisa hanya ada di desa Ntori,wawo kabupaten Bima.selain digunakan oleh warga setempat,Cau Muna sendiri dikirim atau di distribusikan ke beberapa daerah sekitar Bima.seperti ke NTT,sumba dan ke ke wilayah kabupaten Bima yang masih melakukan pemenuhan.Bahan dasar dari Cau Muna sendiri bernama Manini,bukan bambu bukan juga rotan.ia tidak memili ruas tapi mempunyai cabang di selimuti daun dan bunga.ada beberapa proses mulai dari pengambilan bahan,pemisahan kulit luar dan bagian dalam kayu dengan cara di tumbuk atau dihancurkan.bahan yang digunakan Cau Muna itu adalah bagian luar.proses selanjutnya adalah penjemuran lalu ditimbun dalam tahap ini melewati beberapa kali proses yang sama hingga benar benar siap untuk digunakan.

Cau Muna lebih tepatnya adalah sebagai alat pendukung dalam proses penenunan oleh masyarakat di Bima atau penenun lain nya.
mungkin seperti itulah yang bisa saya gambarakan tentang alat tenun traditional asal Bima.

Selamat rehat di tengah rintikan hujan gemes yang sedang melanda kota Bima. Kenapa harus BIMA? Karena bertepatan usang sedang berada di Bima sekaligus ingin merangkum cerita yang berbeda tentang Bima. Kali ini usang akan sedikit membahas tentang alat tradisional yang dimiliki oleh Bima yang bernama "Cau Muna" Cau Muna adalah alat tenun asli dari Bima terbuat dari bambu bilok yang tidak memiliki ruas dan dibentuk melewati beberapa proses cukup panjang serta memakan waktu berhari-hari sebelum menjadi layaknya sisir yang rata seperti miniatur yang usang pegang.alat ini berguna untuk mengatur jarak dan menganyam benang dalam proses penenuhan sebuah kain tenun.pembuatan Cau Muna sendiri sekarang tersisa hanya ada di desa Ntori,wawo kabupaten Bima.selain digunakan oleh warga setempat,Cau Muna sendiri dikirim atau di distribusikan ke beberapa daerah sekitar Bima.seperti ke NTT,sumba dan ke ke wilayah kabupaten Bima yang masih melakukan pemenuhan. Mungkin hanya sebagian yang bisa usang bagikan disini karena penjelasanya cukup memakan banyak kata dan lumayan ribet.alangkah baiknya check postingan 7 hal kenapa harus "BIMA" di blog Ranselusang.com Semua hal yang sedikit berbeda yang usang dapat ketika sedang berada di Bima sudah usang muat. Luangkan waktu kalian untuk membacanya ya Selamat malam dan lembo ade #ranselusangkelilingnusantara #pesonabima #pesonaindonesia

A post shared by PERANTAU (@ranselusang) on

Ke-2 adalah : “The Power of KALEMBO ADE

mungkin banyak tidak mengetahui dan saya yakin sangat asing di telinga jika belum pernah ke Bima atau pernah berbincang dengan orang Bima.akan sering mendengar kata ini dan pasti rata rata mereka bertanya apasih arti dari “Kalembo Ade” atau “Lembo Ade” ? Inilah salah satu keunikan dari Bima.saya sendiri juga mendapatkan kata ajaib ini setelah sampai di bima beberapa waktu yang lalu.Kata ini sangat bermakna banyak dan bisa di deskripsikan ke beberapa kata kerja atau makna yang sangat sulit di cari tau asal muasalnya.bahkan orang Bima sendiripun terkadang bingung atau susah menjelaskan dengan detail kata “Lembo Ade” itu sendiri.

Uma lengge adalah rumah traditional khas warga bima.konon dahulu kala uma lengge ini menjadi bagian atas kamar di tengah sebagai ruang tamu dan bawah menjadi tempat dapur atau memasak.seiring berjalanannya waktu fungsi uma lengge sendiri berubah,dahulu kala di era zaman penjajahan belanda,uma lengge biasa digunakan untuk menyembunyikan anak gadis dari penjajah atau tempat menyimpan persediaan makanan seperti padi dan yang lainya.sekarang sedang musim baru akan bercocok tanam jadi aktivitas disini sedikit sepi karena warga lebih banyak terdapat di lahan pertanian.ada beberapa warga saja yang ada dan terkadang banyak anak kecil yang berkeliaran disini untuk berjumpa kepada wisatawan yang datang Mungkin ini bisa membantu untuk informasi buat teman teman yang kebetulan sedang di bima atau yang akan melewati atau menuju ke bima.banyak di daerah bima yang belum terekspose ke masyarakat luas.seperti tentang masuknya kerajaan islam dan tentang masa masa animisme dan dinamisme #ranselusangkelilingnusantara #exploreindonesia #kelilingindonesia #mbojo_backpaker

A post shared by PERANTAU (@ranselusang) on

Kalemboade Hari ini saya berangkat dari bima menuju sape diantar dengan bang fin @mbojo_backpacker menuju pelabuhan.sebenarnya ada alternatif lain apabila kalian berangkat dari bima bisa menggunakan bus kecil sekitar 20.000 menuju sape,tetapi karena hari sudah siang dan kemungkinan bus sudah tidak ada lagi maka bang fin bersedia mengantar saya.diperjalan saya mendapat pemandangan bukit yang saling berdampingan bersusun acak dan jalan yang menyusuri pinggiran bukit membuat saya bisa menikmati perjalanan yang kurang lebih 1 jam menjadi tak terasa.dan hujan mulai turun kami mencari tempat berteduh didaerah wawo sekaligus mengunjungi rumah adat bima uma lengge yang tidak jauh dari jalan Terima kasih bang fin atas pertolonganya,saya sudah diperbolehkan menginap beberapa hari dirumahnya dan diajak keliling bima walau belum semuanya tapi saya merasa senang bisa lebih tau akan kota bima.mungkin lain waktu saya kembali untuk lebih bisa mengenal dan mencari tau sejarah kota bima yang terkenal dengan sebutan kota tepian air #ranselusangkelilingnusantara #kelilingindonesia #explorebima #mbojobackpacker

A post shared by PERANTAU (@ranselusang) on

Kata “Kalembo Ade” sendiri adalah sebuah kata multi fungsi,dimana bisa menjadi sebuah kata sebagai ucap syukur,bersabar,ikhlas,mengancam,bahagia,bersyukur dan masih banyak lagi kata kerja yang bisa di sangkut pautkan dengan kata ajain itu.kata kata inilah yang pernah menyelamatkan saya dari kejadian yang kurang menyenangkan berubah menjadi bantuan yang tak terduga.Makna yang sangat luas,itu sadah pasti tutur salah satu teman atau orang yang bisa dibilang paham akan sejarah.namun sampai saat ini sejarah kata kata ini belum terungkap misteri munculnya kata ajaib ini.tetapi sesungguhnya kata “Lembo Ade” bertujuan sebagai suatu ungkapan kebaikan.tidak mungkin kata ini terbuat tetapi tidak bisa merasakan manfaatnya.saya tidak berani bicara banyak disini karena saya mengumpulkan semua sumber dari orang orang terdekat yang berada di kota Bima

Ke-3 adalah :”Penurunan Kapal Pinisi”

sudah pernah lihat kapal pinisi kan? nah ini salah satu bagian dari Bima yang harus kalian lihat langsung saat prosesi adat menarik kapal berukuran sangat besar ke dalam air.
Terletak di Desa Sangiang,Bima ada satu prosesi adat unik menarik kapal kayu yang sangat berukuran besar lalu yang paling membuat penasaran adalah keunikanya yaitu di tarik oleh banyak orang dan dilakukan oleh warga setempat. prosesi adat itu bernama Kalondo Lopi namanya

Prosesi Kalondo Lopi di Desa Sangiang merupakan perayaan masyarakat dan bisa dibilang hiburan juga menjadi perayaan yang sangat khas mempunyai makna tersendiri. Kalondo Lopi adalah tradisi yang sudah dilakukan oleh nenek moyang suku Mbojo sejak mereka mengenal dunia kelautan. Tradisi tersebut menunjukkan bukan saja pelestarian warisan budaya di Sangiang, tapi juga sebagai simbol toleransi dan kerukunan antar warga.

Desa Sangiang terletak di pesisir pantai utara, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima. Desa ini berada di timur pulau Sumbawa dan dikelilingi gunung. Mayoritas pekerjaan masyarakat disanan adalah menjadi nelayan.selain itu terkadang mereka juga menjadi pertani dikala musim ikan mulai datang.

Di Desa Sangiang sendiri memiliki banyak potensi wisata alam,seni budaya,kuliner dan berbagai potensi wisata lainnya. Salah satu yang menjadi daya tarik Desa Sangiang adalah Gunung Sangiang sendiri.Si kecil cabe rawit yang memiliki nilai historis sejak abad 14 Masehi.
Prosesi Kalondo Lopi memiliki arti secara harfiah yaitu Proses Penurunan Kapal menuju laut.Dalam proses pembuatan Kapal tersebut memakan waktu sekitar 2 sampai 3 tahun oleh warga.Ada beberapa tahapan yang harus dilakukan oleh pemilik kapal sebelum Kalondo Lopi dilakukan.yaitu pada malam harinya di lakukan Do`a bersama di atas kapal,serta mengundang berbagai elemen masyarakat.pada pagi hari setelah masyarakat sudah terkumpul dari berbagai kalangan.maka,semua mulai bergotong royong dan bersama-sama menarik kapal.Kemudian tunas pinang di ikatkan di depan dan belakang kapal yang mempunyai arti seperti pohon pinang yang tinggi lurus yaitu bersedia melakukan pekerjaan dengan bersungguh sungguh.
Dalam hal ini kaya atau pun miskin, semua akan melebur dalam keharmonisan.dengan kata lain semua berusaha menurunkan kapal kelaut seperti itulah tujuan utamanya.

Diiringi Canda dan tawa,semua terjalin kebersamaan di antara mereka setelah melakukan usaha mendongkrak bagian belakang kapal.Bukan hanya warga lokal saja yang berbaur,wisatawan lokal maupun asing yang turut menyaksikan Kalondo Lopi diperbolehkan membantu bekerjasama untuk menarik kapal tersebut.hingga kapal mulai berhasil memasuki ke air laut,semua masyarakat bersuka cita dan senyum kebahagiaan yang terpancar.jadi sangat disayangkan apabila kalian melewatkan prosesi adat penuruan kapal pinisi yang dimiliki oleh Bima.

Ke-4 adalah : “Mitos goa Karombo Wera”

waktu itu kunjungan saya ke Bima untuk kesekian kalinya.bermula megantar donasi mukena dan baju koko pada saat puasa berakibat bonus mengunjungi salah satu tempat yang jarang temui atau kunjungi apabila sedang melancong ke kota Bima.Lalu dengan tidak sengaja saya mendapat tawaran dari bang Firna untuk ikut menuju ke wera.pada awalnya saya enggan untuk berangkat karena ingin segera menyerahkan donasi.namun,godaan lebih kuat kemtibang iman saya.Bang Firna mengajak saya ke Wera karena bang Fin bersama teman teman akan mencari lokasi Goa Karombo Wera yang menurut cerita legenda di dalam ada beberapa cabang atau lorong diantaranya lorong tersebut bisa langsung menuju ke kaki Gunung Sangiang yang terletak di seberang laut sana.Lalu di lorong satunya tapi saya tidak tau pasti lorong yang mana tetapi menurut mitos lorong tersebut biasa digunakan untuk berangkat menuju tanah suci Mekkah.

kemarin adalah hari yang benar-benar yang sangat menarik,yang menegangkan, seru, mistis dan begitulah, semua bisa di lihat dari sepenggal cerita di video ini, jika teman – teman jalan -jalan ke wera sangiang, selain gunungnya yang keren, kita juga bisa mengeksplore "karombo wera" yang artinya gua wera, gua yang begitu banyak lubang untuk dilalui dan lebih mirip labirin, dan kesana harus benar-benar di pandu oleh orang yang benar-benar hafal seluk beluk gua, karena begitu banyak jalan dan jalur yang benar-benar membingungkan, selain itu konon gua " karombo wera " mempunyai cerita dimana gua ini bisa tembus ke gunung sangiang, tembus ke kota mekkah di arab Saudi sana, dan tembus ke sumur di sebelah mesjid Kesultanan Bima.

Ritual sebelum masuk, di sarankan untuk mengumandankan adzan di salah satu ruangan yang benar-benar mirip mesjid lengkap dengan mimbar dan kubahnya. Beberapa kali kami harus melewati jalan sempit dan bahkan harus merayap, di dalam gua terdapat kelelawar kecil yang berjumlah ratusan ribu yang siap memberikan sensasi yang beda ketika berada di dalam gua " karombo wera ". Dan ini merupakan potensi wisata yang harus kita kenalkan kepada orang-orang di luar sana, dan harus kita jaga bersama kelstariannya baik cerita dan sejarah dari gua ini.terima kasih @mbojo_backpacker dan teman teman yang lain terima kasih juga @superadventure_id @gasbiloetnicwear #ranselusangkelilingnusantara #explorebima

A post shared by PERANTAU (@ranselusang) on

waktu itu kunjungan saya ke Bima untuk kesekian kalinya.bermula megantar donasi mukena dan baju koko pada saat puasa berakibat bonus mengunjungi salah satu tempat yang jarang temui atau kunjungi apabila sedang melancong ke kota Bima.Lalu dengan tidak sengaja saya mendapat tawaran dari bang Firna untuk ikut menuju ke wera.pada awalnya saya enggan untuk berangkat karena ingin segera menyerahkan donasi.namun,godaan lebih kuat kemtibang iman saya.Bang Firna

Lokasi goa terletak di dekat pantai sekitar berjarak 20 meter dari bibir pantai.pintu masuk yang terbuat dari batu karang dan tersembunyi dari semak belukar membuat sedikit susah lokasi goa untuk di temukan.saat itu kami memasuki goa berjumlah 6 orang,saya,bang fin dan beberapa teman dari Wera yang sebagai penunjuk jalan dan yang sudah hafal jalur menjelajah goa tersebut.Saat sudah berada di lokasi kami masuk satu persatu.didepan bibir goa yang lumayan lebar,lalu setelah memasuki sekitar 5 meter jalur semakin menyempit dan kami harus merangkak sampai harus merayap untuk bisa menembus masuk jauh lebih dalam ke goa.

setelah berjalan selama kurang lebih 10 menit kami menemukan persimpangan lorong,lalu kami memilih salah satu lorong yaitu yang kanan.kami bergerak bersama dan tidak lama kami masuk dalam sebuah ruangan yang cukup besar dan disana terdapat seperti “KUBAH” masjid.sesampainya disana salah satu teman bang fin maju kesudut bagian kubah dan mengumandangkan adzan.mitos yang tersebar di masyarakat dan teman teman sendiri setelah memasuki goa dan sampai di ruangan yang menyerupai kubah agar adzan terlebih dahulu sebagai ijin atau ucapan permisi terhadap yang maha kuasa dan meminta perlindungan dalam melakukan aktivitas menelusuri goa.Setelah selesai mengumandangkan adzan kami bergegas bergerak menyusuri di salah satu lorong.kami mulai memanjat keatas dengan merayap dan berpegangan bebatuan tajam tanpa di dampingi alat satupun.sesampainya diatas kami beristirahat sejenak lalu berjalan kembali turun dengan posisi vertical melewati batu licin yang disebabkan kotoran kalelawar.bisa terbayang berjalan dengan kaki telanjang sedikit menyulitkan bagi kami.karena faktor kotoran yang licin tentunya banyak menguras tenaga extra.perjalanan belum berhenti di situ saja,dari posisi bawah yang datar kami berjalan kembali seperti mengitari dinding dinding layaknya labirin sebelum kami menemukan sebuah lubang.ya,lubang yang sangat mustahil untuk manusia bisa tembus.kenapa saya katakan seperti itu?karena ukuran atau diameter lubang tersebut berdiameter tidak sampai 50cm.namun,anehnya kami semua yang kategorinya perawakan pria dewasa bisa masuk tanpa ada kesulitan.Butuh waktu sekitar 20 menit untuk kami menembus semua.badan kami sudah tak karuan lagi,berlumurkan kotoran kalelawar,rasa panas,dan tentunya kadar oksigen yang semakin menipis.lalu kami bergerak kembali hingga ke ujung.sesampainya di ujung kami harus turun satu tingkat lagi sebelum kami menemukan lorong yang menjadi mitos atau cerita legenda masyarakat setempat tentang perjalanan ghaib menuju tanah suci Mekkah dan satu lorong lagi pintu keluarnya menuju tepat di kaki gunung Sangiang.Adrenaline saya terpacu dengan sangat cepat melihat lorong itu langsung.bagaimana tidak? semua cerita yang terus menghinggapi pikiran saya sekarang sudah di depan mata.Ada rasa ingin mencoba tantangan untuk membuktikan kebenaran dari salah satu lorong itu,dan ada rasa takut yang memuncak mengimbangi keraguan atas kebenaran yang tercipta dari sebuah cerita dari mulut ke mulut oleh para orang tua.

Sebenarnya rasa penasaran sangat tinggi untuk mecoba ke salah satu lorong tersebut.namun,saya dan teman teman tidak gegabah dengan kondisi buruk jika mencoba dengan orang orang yang berpengalaman dan tentunya ahli dalam bidang ini.maka hanya dengan lamunan imajinasi seandainya benar maka sebuah pengalaman luar biasa dalam hidup saya.tak ingin berlama lama melihat dan kami tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi karena oksigen sudah mulai menipis di kedalaman entah berapa namun kami sangat yakin untuk dibilang lumayan jauh kami menyusuri goa ini kebawah.dengan serentak dan tetap berdekatan,kami berjalan melewati arah sebaliknya dengan sedikit berjalan menyamping melewati celah sempit untuk menuju pintu keluar.karena kami merasakan ada hembusan angin masuk dan sudah pasti itu adalah jalan keluar.dalam perjalanan pulang terdapat keanehan yang susah untuk di pikir memakai logika.kenapa? karena saat masuk kami menaiki goa serta berjalan turun beberapa kali hingga menuju ke titik tujuan kami.tetapi kenapa dengan waktu tempuh sekitar 30 menit tidak sampai 1 jam kami sudah berada di dekat pintu keluar yang terpancar cahaya sebagai penanda.hal lain yang membuat perjalanan ini aneh adalah kami tidak melakukan perjalanan seperti saat berangkat.melainkan hanya jalan datar dan ruangan sedikit terbuka sebelum kami menemukan persimpangan kecil yang saat berangkat tidak kami temukan.percaya tidak percaya keanehan ini terjadi.bukan ingin membuat buat tapi seperti inilah yang coba saya tuliskan keunik cerita,keanehan perjalanan.namun dibalik semua itu kami berhasil keluar dengan selamat dan kembali ke kota bima dalam kondisi baik terbungkus senyum kepuasan saat berhasil mengunjungi goa yang mempunyai cerita legenda.

Ke-5 adalah : “Pulau Ular”

Pulau ular,dari nama saja kita pasti berpikir sangat berbahaya dan tidak mungkin kita akan mengunjungi salah satu destinasi yang ada di Bima.namun rasa penasaran mampu mengalahkan itu semua.
Saat itu saya berangkat bersama bang Fin dan 3 orang sahabat saya berasal dari negeri tetangga Malaysia.perjalanan kurang lebih 1 jam mengendarai mobil dan lokasi pemberhentian di salah satu desa sebelum desa Wera.untuk bisa mencapai lokasi pulau Ular kami menyewa sebuah kapal nelayan dengan tarif sekitar Rp10.000/orang.jarak dari bibir pantai hingga menuju pulau tidaklah terlalu jauh.sekitar 15 menit kami sudah bisa merapat di pulau Ular yang menjadi bagian cerita legenda atau mitos yang terdapat di Bima.

Ukuran Pulau Ular sendiri tidak terlalu besar,mungkin sekitar 20 sampai 30 meter dari ujung ke ujung kita sudah bisa sampai.kondisi pulau Ular sendiri dominan batu karang namun disini ada hal yang unik,yaitu ada 2 pohon kamboja yang hidup diantara rumput rumput yang mendominasi diatas pulau Ular tersebut.Sedikit usaha extra untuk sampai diatas pulau,karena kita harus memanjat bebatuan yang cukup licin agar bisa sampai diatas pulau dan menikmati lanskap di sekitar yang sangat sayang jika tidak dinikmati.saat kami akan menepi untuk turun dan mencari ular yang sebagai penghuni terbanyak di pulau ini.satu persatu kami sudah turun,dengan berjalan berhati hati menghindari sesuatu yang tidak di inginkan seperti menginjak atau tergigit oleh ular laut yang notaben nya mempunyai bisa yang sangat berbahaya apabila terkena bisanya.

Mitos yang dipercaya untuk bisa berinteraksi langsung dengan ular tanpa ada terjadi insiden biasanya warga lokal akan mencari dan menangkapnya terlebih dahulu.jika warga ada yang menemukan makan dengan dibantu rasa yakin dan berani saya sendiri mencoba memegangnya.

Selain itu juga terdapat mitos yang lain dan sedikit membuat saya penasaran akan cerita keseluruhannya.Konon Pulau Ular adalah sebuah kapal dari perompak yang dikutuk oleh warga di dekat pantai.berawal dari perompak yang menjarah semua harta benda warga dan ingin membawanya kabur.ada salah satu tokoh yang mengutuk para perompak itu.jika mereka berlayar meninggalkan desa mereka,maka kapal akan berubah menjadi batu dan seluruh awak kapal beserta kaptain akan menjadi ular yang akan menghungi pulau itu dan akan hidup abadi menjadi seekor ular.Seperti yang diutarakan oleh kaptain kapal yang mengantar kami bahwa bentuk pulau seperti kapal yang terbalik.selanjutnya 2 pohon kamboja yang hidup diatas pulau adalah sebagai penggati tiang kapal.dan terakhir ular adalah semua yang sudah menjarah dan dikutuk.cerita yang sangat menarik dari sebuah pulau kecil yang tidak terlalu tersohor di kalangan wisatan lokal.seperti itulah hal menarik yang saya dapat di Bima.

setelah saya memberanikan diri untuk memegang badan ular dengan rasa gemetar dibalut rasa was was mempompa nyali untuk membuktikannya.dengan sedikit memejamkan mata akhirnya rasa licin bulat besar bergerak gerak berada ditangan.saya membuka mata dengan pelan sekali agar rasa kaget tidak membuat saya celaka dari gerak reflek ular.Tapi semua ternyata diluar dugaan,saya bisa membelai badan ular air yang berbahaya ini.pelan pelan saya sapu gemulai badan hingga di bagian ujung kepala.saya mencoba menatap matanya dan mencoba siaga jika terjadi sesuatu maka saya bisa terhindar dari hal yang tidak di inginkan.hanya beberapa detik saya sanggup menatap dengan jarak sedekat mungkin.ini adalah sebuah pengalaman luar biasa yang saya dapat di Bima.lalu dari arah belakang tiba tiba anak kecil mengalungkan beberapa ekor ular sehingga saya langsung terduduk mematung menahan pergerakan ular yang ingin merangsek masuk kedalam balik baju saya.seluruh bulu badan saya berdiri menahan semua perlakuan ular ini.seperti ingin dimanja dan diajak bermain bersama.setelah saya sudah mulai tidak tahan dengan ular sebanyak itu,saya segera memalingkan muka ke anak anak.mereka teriak histeris dan ada juga yang ketawa melihat temanya takut untuk mencoba menyentuh ular.semua begitu sangat luar biasa dan kami merasa sangat puas akan kunjungan kami ke Pulau ular.

Ke-6 adalah : “Mitos Minyak Sambi”

minyak sambi dibuat dari bahan dasar buah kesambi.buah kesambi di olah melewati beberapa proses sehingga berubah menjadi minyak.proses pembuatanya sendiri cukup memakan waktu mulai dari penjemuran,pemisahan kulit buah hingga proses dihancurkan lalu di peras sehingga mengeluarkan minyak dari buah kesambi.dalam mitos dari minyak sambi ini mempunyai cerita tersendiri.seperti seorang wanita yang sedang mengolah minyak sambi harus dalam keadaan bersih,dalam keadaan tenang atau lebih tepatnya menghindari keramaian.apabila ada seseorang memanggil atau menghilangkan konsentrasi si pembuat,maka orang itu harus membantu dalam pembuatan.apabila tidak mengikuti atau membantu maka si minyak sambi sendiri tidak akan pernah berhasil di buat alias kering.percaya tidak percaya seperti itulah mitosnya.khasiat dari minyak sambi sendirisangat banyak.bisa mengobati luka,penyakit kulit,sakit perut,melancarkan organ pencernaan.bahkan ada yang menyebut bisa untuk pemikat lawan jenis.ada satu lagi keunikan dari Minyak sambi sendiri.jika dibiarkan atau disimpan,maka minyak akan bertambah banyak sendiri dalam jangka waktu yang cukup lama.entah kebenaranya seperti apa tetapi saya mendapatkan info seperti itu dari beberapa sumber yang saya temui.

Ke-7 adalah : “Tradisi NTUMBU (Adu Kepala)”

Adu Kepala sendiri dalam Bahasa Bima disebut Ntumbu.Sampai saat ini belum diketahui secara pasti kapan kesenian ini mulai ada di Bima.Ntumbu ini hanya ditemkukan di Desa Ntori Kecamatan Wawo.Beberapa sejarahwan dan budayawan berpendapat bahwa atraksi ini telah ada pada zaman kesultanan Bima pada abat ke 17.Kebanyakan pertunjukan kesenian tradisional Bima didominasi oleh pertunjukan ketangkasan yang menggambarkan semangat patriotisme dan kepahawanan.semua itu dibuktikan dengan menggunakan perlengkapan layaknya perang seperti parang,tombak,keris dan lain lain dalam setiap atraksi.

Di Desa Ntori kecamatan Wawo Bima,Ntumbu adalah warisan turun temurun oleh satu keluarga atau keturunannya saja.Dan tidak bisa dimainkan oleh orang lain di luar lingkungan keluarga itu. Sebelum bertanding (Beradu Kepala), salah seorang yang tertua di antara mereka akan memberikan air doa dan mantera kepada seluruh anggota pemain.Mantera itu ditujukan untuk ilmu kebal.sehingga ketika mereka melakukan adu kepala,maka tidak merasakan sakit dan tidak ada memar atau berdarah akibat benturan kepala itu.Adu Kepala diiringi oleh alunan musik tradisonal Bima yaitu Dua Buah Gendang,Satu serunai,Gong,dan beberapa orang berlaga di depan seperti gaya pencak silat lalu saling menyerang dengan kepala.seperti itulah mungkin yang bisa saya jelaskan tentang tradisi adu kepala.

seperti penjelasan diatas kenapa saya memberi alasan wajib teman teman harus mengunjungi dan mencari tau semua yang ada dikota BIMA karena siapa lagi kalau bukan kita yang akan terus mencari dan menjaga kelesatarian budaya di setiap daerahnya.

2 Comments

  • iqbal February 10, 2017 at 21:14

    Mantabsss

    Reply

Leave a Reply